Ayah, Kau Pergi Terlalu Pagi
Ayah,
pagi masih setengah terjaga
saat kabar itu datang
seperti angin dingin
yang tak sempat kukenali arahnya.
Suaramu masih tinggal
di sudut rumah,
di kursi yang kini diam,
di doa yang kau bisikkan
tanpa pernah meminta balasan.
Aku mencari langkahmu
di setiap senja,
namun yang kutemukan
hanya langit
yang belajar diam bersamaku.
Ayah,
kepergianmu mengajarkanku
bahwa kuat bukan berarti tak menangis,
dan rindu
adalah cinta yang tak sempat pulang.
Kini hanya nisan
yang bisa kupeluk,
namun namamu
tetap hidup
di setiap detak yang kau tinggalkan.
Tenanglah, Ayah.
Doaku akan selalu menemukanmu
meski ragaku tak lagi bisa.





No comments:
Post a Comment